AgAAAAA3-Ui4AAUEehY8Y8bzLEpaiDGgryLuZnI Teori SKINNER (Aplikasi Teori Dalam Praktek Pendidikan - Journal Collection

Teori SKINNER (Aplikasi Teori Dalam Praktek Pendidikan



OPERANT CONDITIONING B.F SKINNER
(Aplikasi Teori Dalam Praktek Pendidikan)

A.                 Pendahuluan
Proses pendidikan dapat dilaksanakan di mana saja, pada situasi apapun dan berlangsung seumur hidup. Untuk membedakan pelaksanaan pendidikan tersebut, maka dalam istilah kependidikan dikenalkan bahwa terdapat tiga jenis pendidkan yaitu pendidikanan formal, non formal dan informal. Dalam kajian makalah ini pendidikan yang dimaksud lebih terfokus kepada pendidikan formal, meskipun begitu teori yang akan dibahas juga dapat dipergunakan dalam kedua jenis pendidikan yang lain.
Proses belajar mengajar dapat terlaksana secara efektif, efisien dan optimal jika didukung oleh pengetahuan yang memadai tentang teori-teori pendidikan yang berlaku secara umum. Dengan demikian kajian terhadap teori-teori peendidkan memiliki urgensi yang segnifikan, sebagai upaya memperkaya wawasan kependidikan, terutama bagi para guru daan praktisi pendidikan pada umumnya. Hal ini dimaksudkan untuk mencari landasan teoritis yang variatif, cocok dan berdayaguna dalam pelaksanaan pendidikan.
Salah satu teori yang diberikan Psikologi Pendidikan (yang merupakan aplikasi dari teori-teori psikologi dalam praktek pendidkan), adalah teori-teori belajar.  Teori  ini  besar  sekali  sumbangannya  terhadap  praktek  pendidkan, khususnya dalam bidang kurikulum dan pengajaran (Sudjana, 1991 : 1).
Secara teriotik, teori-teori belajar menjadi sumber bagi teori-teori pengajaran. Teori belajar menjelaskan bagaimana seorang individu dapat belajar dengan baik dan mengapa terjadi perubahan tingkah laku manusia melalui belajar, tetapi tidak menjelaskan bagaimana teknik dan cara  membantu siswa mencapai tujuan pendidkan berdasarkan kaidah-kaidah yang terdapat dalam teori belajar (Ibid).
Di    antara    teoritikus    dalam    bidang    pembelajaran    yang    paling berpengaruh  terhadap  perkembangan  teknologi  pendidikan  ialah  B.F  Skinner dengan teori pendidikannya adalah operant conditioning yang merupakan salah satu  teori  yang  menonjol  diantara  sekian  banyak    teori  behaviorisme  yang berdaskan hasil eksperimen. Menurut Sumadi Suryabrata (1986 : 294), di dalam dunia   pendidikan,   khusunya   dalam   lapangan   metodologi   dan   teknologi pengajaran,  pengaruh  ini  sangat  besar.  Pengaruh  teori  Skinner  sangat  besar terutama di Amerika Serikat dan negara-negara pengaruhnya. Konsep-konsep behavior  control  dan  behavior  modification  yang  sangat  populer  di  kalangan- kalangan tertentu juga bersumber pada teori ini.
Tulisan singkat dalam makalah ini akan mencoba mendeskrifsikan teori operant conditioning B.F Skinner dalam hal apa dan bagaimana aplikasi teori dalam pendidikan ? Mudah-mudahan tulisan ini dapat menjadi wacana pembuka dalam memahami teori tersebut dengan lebih baik.
B.         Operant Conditioning B.F Skinner
1.         Sejarah Singkat Teori Operant Conditioning B.F Skinner
Berdasrkan hasil kajian terhadap beberapa literatur yang ada, dapat dipahami bahwa teori operant conditioning ini merupakan salah satu dari beberapa teori belajar yang termasuk dalam kelompok behaviorisme (Muhaimin, 1986 : 26). Dengan demikian orientasi kajiannya pun tingkah laku manusia (psikomotorik).
Teori pembiasaan prilaku respon (operant conditioning) ini merupakan teori  belajar  yang  berusia  paling  muda  dan  masih  sangat  berpengaruh  di kalangan para ahli psikologi belajar masa kini. Teoritikus penciptanya bernama Burhus    Frederik    Skinner    yang   lahir   tahun   1904,   seorang   penganut behaviorisme yang dianggap kontraversial. Tema pokok yang mewarnai karya- karyanya adalah bahwa tingkah laku itu sendiri (Bruno, dalam Muhibbin Syah, 1999 : 88).
Operant  Conditioning  adalah  nama  yang  di  pergunakan  oleh  Skinner (1938)  untuk  suatu  prosedur  dimana  seorang  dapat  mengontrol  tingkah  laku organisme melalui pemberian reinforcement yang bijaksana dalam lingkungan yang relatif bebas (Walker, 1973 : 127).
Azas operant conditioning B.F Skinner mulai muncul dalam tahun 1930- an,  pada  waktu  keluarnya  teori-teori  S-R  (Stimulus-Respons)  yang  kemudian deikenal dengan model konditioning klasik dari Pavlov yang pada saat itu telah memberi pengaruh yang kuat dalam pelaksanaan penelitian. Munculnya teori Operant  Conditioning  ini  sebagai  bentuk  reaksi  ketidak  puasan  Skinner  atas teori  S-R,  umpamanya  pada  pernyataan  Stimulus  terus  menerus  memiliki sifat-sifat  kekuatan  yang  tidak  mengendur (Gredler,  1991  :  115).  Dengan  kata lain  suatu  stimulus  bervariasi  serta  akan  terjadi  pengulangan  bila  terdapat penguatan (reinforcement). Pengulangan respons-respons tersebut merupakan tahapan-tahapan dalam proses mngubah atau pembentukan tingkah laku.
Menurut Margaret E. Bell Gredler, B.F Skinner setuju dengan pendirian yang  dulu  diambil  oleh  Jhon  Watson,  maksudnya  psikologi  dapat  menjadi suatu   ilmu   hanya   melalui   studi   tingkah   laku,   oleh   karena   itu   Skinner mendefenisikan belajar sebagai perubahan tingkah laku (Ibid : 116-117). Hal ini berati  bahwa  tingkah  laku  belajar  dapat  di  modifikasi  dan  diprogram  dalam rangka  pencapaian  tujuan  pendidikan.  Dalam  kaitan  ini  kemampuan  dan profesionalisme guru memainkan peranan kunci.
Teori Skinner ini kemudian dianggap sebagai dasar dari program- program inovatif dalam bidang pendidikan. Seperti pengajaran berprogram, mesin mengajar (teaching machine) dan program pengajaran dengan bantuan komputer.
2.   Pengertian Operant Conditioning
Secara   terpisah   kata   operant   dan   conditioning   mempunyai   definisi tersendiri.  Dalam  hal  ini  operant  diartikan  sebagai  sejumlah  prilaku  atau respons  yang  membawa  efek  yang  sama  terhadap  lingkungan  yang  dekat (Reber,  dalam  Muhibin  Syah,  1995  :  107).  Sementara  conditioning  diartikan sebagai  suatu  bentuk  belajar  dimana  kesanggupan  untuk  merespon  terhadap rangsangan  tertentu  dapat  dipindahkan  pada  rangsangan  yang  lain  (Walker, 1973 : 25).
Sedangkan   secara   menyeluruh,   istilah   operantconditioning   diartikan sebagai   suatu   situasi   belajar   dimana   suatu   respons   lebih   kuat   akibat reinforcement langsung (Wasty, 1998 : 126). Kemudian margaret E. Bell Gredler dalam   kesimpulannya   mengartikan   operant    conditioning    sebagai   proses mengubah   tingkah   laku   subjek   dengan   jaalan   memberikan   penguatan (reinforcement)   atas   respons-respons  yang   dikehendaki  dengan   kehadiran stimulus  yang  cocok  (Gredler,  1991  :  125).  Kemudian  dalam  ungkapan  yang berbeda dinyatakan bahwa :
Operant conditioning is the process of aperant conditioning involves the modification of behaviour by its contingences. Typically a relationship is established between some form of valuntary behaviour and reinforcement. A subject is operantly conditioned when he has modified his behavior to obtain the reinforcement or reward. A knowledge of the pattern oe reinforcement enables predictions to be made about the individual’s behaviour (Hills, tt : 211).
Dari beberapa definisi di atas, dapat diambil suatu pemahaman bahwa penciptaan suatu kondisi dalam rangka pengubahan tingkah laku subjek, yang relatif sesuai dengan yang dikehendaki (misalnya, oleh guru atau pemimpin pendidikan) yaitu dengan mencermati dan mengontrol respons yang muncul, kemudian setiap respons tersebut diberikan penguatan (reinforcement).
3.    Teori Pokok Operant Conditioning B.F Skinner
Seperti    halnya    Throndike,    Skinner    menganggap    reward    atau reinforcement   sebagai   faktor   terpenting   dalam   proses   belajar.   Skinner berpendapat bahwa tujuan psikologi adalah meramal dan mengontrol tingkah laku (Wasty, 1998 : 119). Dengan demikian tingkah laku yang diinginkan terjadi, dapat    digambarkan    dan    dibentuk    secara    nyata    melalui    pemberian reinforcement yang sesuai.
Menurut  Skinner  tingkah  laku  sepenuhnya  ditentukan  oleh  stimulus, tidak ada faktor perantara lainnya. Rumus Skinner : B (behaviour) = F (fungsi) dari S (stimulus) (B = F (S). Tingkah laku atau respons (R) tertentu akan timbul sebagai reaksi terhadap stimulus tertentu (S). Respons yang dimaksud di sini adalah respons yang berkondisi yang dikenal dengan respons operant (tingkah laku operant). Sedangkan stimulusnya adalah stimulus operant (Sudjana, 1991 : 85).  Oleh  karena  itu  belajar  menurut  Skinner  diartikan  sebagai  perubahan tingkah laku yang dapat diamati dalam kondisi yang terkontrol secara baik.
Terdapat  dua  macam  penguat  yang  dapat  diberikan  dalam  rangka memotivasi  atau  memodifikasi  tingkah  laku.  Pertama,  reinforcement  positif yakni   sesuatu   atau   setiap   penguat   yang   memperkuat   hubungan   stimulus respons atau sesuatu yang dapat memperbesar kemungkinan timbulnya suatu respons atau  dengan  kata lain  sesuatu  yang  dapat memperkuat tingkah  laku. Kedua,    Reinforcement   negatif    (punishment)    yakni    sesuatu    yang    dapat memperlemah  timbulnya  respons-respons  (Rohani,  1995  :  13).  Artinya  setiap penguat  yang  dapat  memperkuat  tingkah  laku  respons  tetapi  bersifat  aversif (menimbulkan   kebencian   dan   penghindaran),   misalnya   :   ujian   tiba-tiba. Stimulus   negatif   dapat   menimbulkan   respons   emosional   bahkan   dapat melenyapkan (extinction) tingkah laku atau respons (Gredler : 1991 : 130).
Macam  dari  sifat  reinforcement  ini,  merupakan  pilihan  atau  opsi  bagi para    guru    sebagaii    pemilik    reinforcement    (Baker,    1983    :    121),    untuk menerapkannya  di   lapangan  baik  dalam   konteks   kelas  maupun   terhadap individu dalam kelas.  Disinilah kemampuan  profesionalisme dan pengalaman seorang  guru  sangat  menentukan,  karena  bukan  suatu  hal  yang  mustahil reinforcement  negatif  justru  melahirkan  respons  (tingkah  laku)  positif.  Tetapi Skinner lebih menekankan kepada pemberian reinforcement positif.
Ada  dua  konsep  operant  yang  relevan  yakni  melenyapkan  (extinction) dan hukuman. Konsep melenyapkan adalah proses dimana suatu operant yang telah  terbentuk  tidak  mendapatkan  penguat  lagi.  Dengan  demikian  dapat menyebabkan  intensitas  dan  frekuensinya  menjadi  turun.  Hukuman  adalah stimulus   yang   merupakan   konsekuensi   tingkah   laku   yang   mengurangi kemungkinan  terjadinya  prilaku  serupa  di  masa  yang  akan  datang  (Dimyati dan Mudjiono, 1999 : 9). Oleh karena itu maka yang terbaik adalah menyusun kemungkinan    terjadinya    reinforcement    yang    positif    dan    apabila    ingin memperlemah  respons  sebaiknya  tidak  perlu  diberikan  reinforcement  lagi. Dengan kata lain terjadi proses melenyapkan (extinction).
Dalam proses pembelajaran, untuk memperbesar peranan peserta didik dalam aktivitas pengajaran, maka reinforcement (penguat) yang diberikan oleh seorang guru sangat diperlukan, karena penguat yang diberikan tersebut akan membuat individu terus berupaya meningkatkan prestasinya. Sebagai contoh, ketika seorang guru melihat siswanya rajin mengunjungi perpustakaan, lalu guru tersebut memberikan senyuman sebagai tanda memujinya. Senyum guru itu merupakan reinforcement bagi siswa tersebut yang bermanfaat untuk menggiatkannya lebih sering lagi mengunjungi perpustakaan.
C.     Aplikasi Teori Operant Conditioning Dalam Praktek Pendidikan
Belajar dan mengajar merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Belajar adalah mengingat, mengerti, memahami, menerangkan, menganalisa, mensintesis, mengevaluasi, berpikir, percaya, berpartisipasi, melaksanakan dan seterusnya. Belajar adalah perubahan dari setiap tingkah laku yang merupakan pendewasaan atau pematangan oleh satu kondisi dari organisme (subjek). Dan mengajar tidaklah mentransfer sumber pengetahuan saja tetapi juga mengubah sikap dan tingkah laku yang nyata. (Anwar, tt : 95, 96,98).
Skinner mengakui bahwa aplikasi teori operant conditioning ini terbatas, tetapi ia merasa bahwa ada implikasi praktis bagi pendidikan. Ia mengemukakan bahwa kontrol yang positif (menyenangkan) mengandung sikap yang menguntungkan terhadap pendidikan dan akan lebih efektif bila digunakan. Menurut Skinner, belajar memberikan kekuatan untuk terjadinya respons-respons yang bertingkat dan berkelanjutan, apabila prosedur penguatan  (reinforcement)  diatur  sedemikian  rupa.  Oleh  karena  itu  dalam proses belajar perlu ditetapkan tingkah prilaku. Pada saat orang belajar, maka responsnya  menjadi  lebih  baik.  Sebaliknya,  apabila  ia  tidak  belajar  maka responsnya  akan  menurun.  Dalam  belajar  dapat  di  temukan  beberapa  hal  : Kesempatan   terjadinya   peristiwa   yang   menimbulkan   respons   pembelajar, respons  si  pembelajar,  dan  konsekuensi  yang  bersifat  menguatkan  respons tersebut  (Dimyati  dan  Mudjiono,  1999  :  9).  Penguatan  terjadi  pada  stimulus yang  menguatkan  konsekuensi  tersebut.  Sebagai  ilustrasi,  perilaku  respons  si pembelajar  yang  baik  diberi  hadiah  tetapi  sebaliknya,  perilaku  respons  yang tidak baik diberi teguran dan hukuman.
Fungsi utama pendidikan adalah mencipatakan kondisi agar tingkah laku yang baik dapat di terapkan, sedangkan peranan utama dari seorang pendidik (guru) adalah menciptakan kondisi agar tingkah laku yang diinginkan dapat terwujud dan proses belajar berlangsung secara dinamis dan kondusif. Untuk itu dalam prose pendidikan dibutuhkan guru yang profesional dan memiliki wawasan yang luas.
Menurut  Zakiah  Daradjat  (1982  :  22-23),  guru  yang  profesional  minimal harus  memiliki  enam  hal  yaitu  :  Pertama,  kegairahan  dan  kesediaan  untuk mengajar.  Kedua,  dapat  membangkitkan  minat  murid.  Ketiga,menumbuhkan sikap   dan   bakat   yang   baik.   Keempat,   mengatur   proses   belajar   mengajar. Kelima,   berpindahnya   pengaruh   belajar   dan   pelaksanaannya   ke   dalam kehidupan yang nyata. Dan keenam, hubungan manusiawi dalam proses belajar mengajar.
Pada diri setiap manusia ada keinginan yang mulia yang dibuatnya  sendiri dari lubuk hati yang paling dalam dan telah tertanam sedemikian rupa yang berasal dari hubungannya dengan obyek-obyek kehidupan sekitarnya, sementara mengajar berarti memberikan stimulus dan menguatkannya.
Dalam proses pembelajaran guru dapat menyusun program pembelajaran berdasarkan pandangan Skinner ini. Dalam menerapkan teori Skinner guru perlu memperhatikan dua hal yang penting, yaitu : pemilihan stimulus yang deskriminatif dan penggunaan penguatan. Sebagai ilistrasi apakah guru akan meminta respons ranah kognitif atau efektif. Jika yang akan dicapai adalah sekedar menyebutkan ibu kota negara Republik Indonesia adalah Jakarta, tentu saja siswa hanya dilatih menghafal.
Langkah-langkah pembelajaran yang dapat ditempuh berdasarkan teori operant comditioning adalah sebagai berikut :
1.      Mempelajari keadaan kelas. Guru mencari dan menemukan perilaku siswa yang positif atau negatif. Perilaku positif akan diperkuat dan perilaku negatif diperlemah atau dikurangi.
2.      Membuat daftar penguat dan positif. Guru mencari prilaku yang lebih disukai oleh siswa, prilaku yang kena hukuman, dan kegiatan luar sekolah yang dapat dijadikan penguat.
3.      Memilih dan menentukan urutan tingkahh laku yang dipelajari serta jenis penguatnya.
4.      Membuat program pembelajaran. Program pembelajaran ini berisi urutan prilaku yang dikehendaki, penguatan, waktu mempelajari prilaku, dan evaluasi. Dalam melaksanakan program pembelajaran, guru mencatat prilaku dan penguat yang berhasil dan tidak berhasil. Ketidak berhasilan tersebut menjadi catatan penting bagi modifikasi prilaku selanjutnya (Gredler, 1991 : 154-156).
Sebagai ilustrasi ketertiban kelas, pada saat berlangsung proses belajar mengajar, seorang siswa berulang-ulang mengganggu teman di depannya.  Guru yang melihat kelakuan tersebut segera mengamati dan menentukan apa yang akan di lakukannya, memberikan perhatian atau meengacuhkannya sebab kedua pilihan ini dapat menjadi dapat menjadi reinforcement bagi yang bersangkutan.
D.         Programing Pelajaran
Dalam  konteks  pembelajaran  menurut  Skinner  dapat  dilihat  bahwa tujuan,  metode  dan  hasil  belajar  dikontrol  secara  ketat  (Nasution,  1991  :  54). Untuk itu guru perlu mempunyai kemampuan menganalisaa pelajaran menjadi unit-unit  kecil  yang  dapat  dipelajarri  anak  dengan  kemampuan  sendiri.  Oleh karena  itu  guru  juga  perlu  melakukan  programing  atau  memprogramkan pelajaran   menjadi   unit-unit   kecil   dalam   urutan   yang   membawa   siswa selangkah demi selangkah ke arah tujuan pelajaran (Ibid : 54).
Tentang bagaimana membuat urutan materi pelajaran. Hal ini sangat ditentukan oleh kemampuan analisis guru terhadap materi, tujuan dan metode, misalnya :
         Sejarah dengan urutan kronologis (progreesif, refresif).
         Matematika dengan urutan logis.
         Urutan sederhana-kompleks.
         Urutan mudah-sulit.
         Urutan     speesifik-umum,     
         khusus-konsep/generalisasi,     dan
         urutan keseluruhan bagian-bagian (Ibid : 55,56).
Programing yang telah dibuat menjadi unit-unit dan berurutan dan diaplikasikan secara bertahap dan konsisten, kemudian dikontrol secara ketat terhadap respons-respons yang ditimbulkan gina menentukan reinforcement yang akan diberikan.
Bentuk   nyata   oprasionalisasi   dari   teori   ini   adalah   sebagai   berikut   : stimulus   (SI)   akan   melahirkan   respon   (RI),   respons   ini   kemudian   diberi penguatan (reinforcement). Kemudian respons (RI) menjadi stimulus (S2) yang dapat menimbulkan respons (R2), selanjutnya diberikan penguatan dan begitu seterusnya. (Nasution, 1991 : 52,53).
Dalam  pemberian  stimulus  menurut  teori  ini  dapat  berupa  stimulus positif, yaitu stimulus yang langsung dapat di respons oleh sunjek dan segera diberikan reinforcement (walker, 1973 : 139), atau dapat juga dengan stimulus diskriminatif  (Sd),  yaitu  sembarang  stimulus  yang  hadir  secara  ttiba-tiba  bila mana suatu respons menerima penguatan (Gredler, 1991 : 125).
Berkaitan  dengan  respons  terhadap  stimulus  ini,  Skinner  membedakan adanya  ddua  macam  respons  dalam    Operant  Conditioning,  yaitu  :  Pertama, Respondent  respons  :  yaitu  respons  yang  ditimbulkan  oleh  stimulus  tertentu dan  respons  tersebut  relatif  tetap,  misalnya  makanan  menimbulkan  air  liur, setiap kali ada makanan yang ddidekatkan pada subyek  maka secara spontan air liurnya akan muncul. Kedua,  Operant respons : yaitu respons yang timbul oleh  suatu  stimulus  dan  diberikan  penguatan  (reinforcement)    (Suryabrata, 1986  :  227).  Sebagai  contoh,  seorang  siswa  yang  dapat menyelesaikan  dengan baik soal matematika  yang diberikan oleh seorang guru dan kemudian gguru itu memberrikan penguatan berupa senyuman atau pujian maka siswa tersebut akan terpacu untuk dapat pula menyelesaikan soal-soal yang diberikan selanjutnya. Respons inilah yang menjadi fokus teori Skinner.
Dengan berdasarkan pada urutan-urutan filosofis di atas, maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa secara ringkas teori Skinner memiliki tiga elemen, yaitu Stimulus (S), Respons (R) dan Reinfforcement. Setiap elemen ini saling terkait satu sama lain dan bersifat sircular, dan bukan merupakan eelemen yang berdiri sendiri yang suatu saat terlepas dari elemen yang lain.
Prinsip utama atau pokok dari teori operant conditioning B.F Skinner ini adalah pemberian reinforcement  (penguatan). Margaret E. Bell Gredler (1991 : 127)  mengemukakan  reinforcement  dalam  teori  Skinner  adalah  stimulus  yang mengikuti  suatu  respons  dan  memperkuat  atau  memuaskannya  atau  setiap konsekuensi  dari  tingkah  laku  yang  mempunyai  dampak  memperkuat  atau memperkokoh tingkah laku.
Istilah konsekuensi yang menguatkan (reinforcement concequence) dan penguatan (reinforcement) digunakan sebagai pengganti untuk istilah ganjaran (reward), karena menurut Skinner penggunaan istilah “ganjaran” menyarankan adanya bentuk-bentuk kompensasi untuk bertingkah laku dalam cara tertentu, istilah ini juga mengandung konotasi pengaturan kontrak.
E.         Macam-Macam Reinforcement
Penguatan (reinforcement) dalam teori Skinner ini dapat dibedakan dalam beberapa bagian sebagai berikut :
1.    Ratio reinforcement, yaitu reinforcement yang diberikan setelah respons muncul dalam jumlah tertentu.
2.    Interval reinforcement, yaitu reinforcement yang diberikan setelah respons pertama, sesudah habisnya jangka waktu tertentu atau tidak langsung. (Walker, 1973 :133, 134)
3.    Penguat primer, yaitu penguat yang meningkatkan keseringan merespon tanpa perlu latihan untuk itu, contoh : makanan, uang.
4.    Penguat skunder, disebut pula penguat berkondisi, yaitu kelompok penguat yang berpengaruh pada tingkah laku melalui pelatihan (conditioning), contoh : bunyi gorengan, aroma sate.
5.    Penguat generalisasi : penguat yang berfungsi dalam berbagai situasi dan diasosiasikan dengan penguat primer, seperti : senyuman, pujian perhatian, persetujuan.
6.    Penguat alami, penguat yang ada secara alami, seperti : kesempatan, bermain.
7.  Penguat akalan (kontrive) atau yang diatur, tetapi dilaksanakan dengan bijaksana, seperti keluar kelas lebih cepat, waktu bebas, piagam, (Gredler, 1991 : 128, 129, 146, 147).
F..     Reinforcement
Stimulus  yang  mengikuti  suatu  respons  dan  yang  dapat  memuasakan kemungkinan     respons     dinamakan     reinforcer.Reinforcer     itu     sendiri sesungghnya  adalah  stimulus  yang  meningkatkan  kemungkinan  timbulnya sejumlah  respons  tertentu.  Stimulus  reinforcement  atau  stimulus  penguat adalah  memusatkan  perhatian  kepada  akibat  pada  orang  lain  yang  sedang belajar (Soekarto, 1974 : 25).
Berikut ini urutan operasional (operant conditioning) dalam bentuk bingkai (frame). Modifikasi atau improfisasi dari frame S. Nasution, yaitu :

A

Materi 1

S1
Respon
R1
Reinforcement

B
R1+Reif(A)+
Materi 2

S2
Respon
R2
Reinforcement

C
R1+Reif(B)+
Materi 3

S3
Respon
R3
Reinforcement

Secara   berurutan,   siswa   diberikan   materi   1   dan   sekaligus   sebagai stimulus (1), siswa memberikan respons (R1) berupa pemahaman yang benar terhadap  materi  tersebut,  kemudian  siswa  yang  bersangkutan  memperoleh reinforcement.   Pemberian  reinforcement  atas  rerespons   (R1)   menambah semangatnya  untuk  memahami  materi  2,  yang  berperan  sebagai  stimulus (S2) yang dibangun bersama respons (R1), dan seterusnya.
Sebagai     contoh,     seorang     guru     menginginkan     siswanya     dapat melaksanakan shalat  dengan baik dan benar, maka guru memberikan materi wudhu’   terlebih  dahulu   sebagai   materi   1.   Siswa   kemudian  memberikan respons dan dapat melakukan wudhu’ dengan benar dan memahami nya lalu guru    tersebut    memberikan    penguat    seperti    pujian    atau    senyuman. Pemberian penguat inilah yang kemudian menambah semangat siswa untuk memahami  materi  2  yaitu  bacaan  shalat,  begitu  seterusnya,  setiap  respons yang diberikan siswa secara langsung diberikan penguatan oleh guru sehingga semangat siswa untuk melakukan yang lebih baik akan meningkat.
Dari urutan-urutan ini terlihat bahwa pemberian reinforcement (penguatan) harus konsisten, segera dan positif setelah tingkah laku (respons) yang diinginkan atau diprogramkan.
Dalam proses belajar mengajar Skinner menganjurkan untuk melakukan analisis langsung terhadap aktivitas-aktivitas yang terjadi dalam situasi praktis untuk mengenal tingkah laku yang pantas dan tidak pantas secara tepat, dengan cara mengadakan pelatihan yang bersifat spesifik, praktek, dan segera. Latihan ini merupakan latihan yang berhubungan secara spesifik dengan pekerjaan yang dilakukan secara praktis untuk diaplikasikan dengan segera dan materi yang diberikan bersifat praktis.
Mengajar adalah mengatur kesatuan penguat untuk mempercepat proses belajar. Dengan demikian tugas guru harus menjadi arsitek dalam membentuk tingkah laku siswa melalui penguatan, sehingga dapat membentik respons yang tepat dikalangan para siswa.
Menurut Nana Sudjana (1991 : 93) ada beberapa prinsip pengajaran yang dapat digunakan berdasarkan operant conditioning yaitu :
1.      Perlu adanya tujuan yang jelas dan tingkah laku apa yang diharapkan.
2.      Memberikan tekanan pada iindividu sesuai dengan kesanggupannya.
3.      Pentingnya penilaian yang terus menerus untuk menetapkan tingkat kemampuan siswa.
4.      Prosedur pengajaran dilakukan melalui modifikasi atas dasar hasil evaluasi dan kemajuan yang dicapainya.
5.      Hendaknya digunakan positif reinforcement secara sistematis bervariasi dan segera manakala respons siswa itu terjadi.
6.      Prinsif belajar tuntas sebaiknya digunakan agar penguasaan belajar para siswa dapat diperoleh sesuai tingkah laku yang diharapkan.
7.      Peranan guru lebih diharapkan sebagai arsitek dan pembentuk tingkah laku.
Prinsip-prinsip ini, dalam pelaksanaannya memerlukan keahlian, kreatifitas, kesabaran, “telaten” dan konsisten, mulai dari perumusan program, tujuan dan metode yang akan digunakan serta penerapannya, tidak ada pilihan lain kecuali profesionalisme.
Dalam proses pengajaran operant conditioning menjamin dan memeberi keyakinan adanya respons terhadap stimulus, sebab jika sesuatu tidak menunjukkan reaksi-reaksi terhadap stimulus, guru tak mungkin dapat membimbing tingkah lakunya ke arah tujuan. Dalam hal ini guru mempunya peranan penting didalam kelas untuk mengontrol dan mengarahkan  kegiatan belajar ke arah tercapainya tujuan yang telah dirumuskan.
A.     Pemberian Penguatan Dalam Pembelajaran
Sebagaimana telah dibicarakan sebelumnya bahwa yang menjadi fokus utama teori Operant Conditioning dalam belajar oleh B.F Skinner ini adalah pemberian reinforcement (penguatan) terhadap organisme (subjek) sesaat setelah memberikan respons tehadap stimulus. Pemberian reinforcement ini diprogramkan sedemikian rupa supaya terjadi pengulangan atau peningkatan respons. Dalam pendidikan, pemberian reinforcement (penguatan) berarti pemberian penghargaan. Penghargaan mempunyai pengaruh positif dalam kehidupan manusia sehari-hari yakni mendorong seseorang mmemperbaiki tingkah laku serta meningkatkan kegiatannya atau usahanya. Dengan demikian jika yang diberi penghargaan itu adalah siswa yang sedang belajar, maka imbasnya adalah reinforcement yang diberikan tersebut akan diterima oleh siswa sebagai stimulus yang bermanfaat untuk merangsang siswa mengulangi perbuatannya yang dianggap baik itu, bahkan memacu siswa untuk berbuat lebih baik lagi.
Dalam proses belajar mengajar, memberikan penguatan diartikan dengan tingkah laku guru dalam merespons secara aktif suatu tingkah laku tertentu dari siswa yang memungkinkan tingkah laku tersebut timbul kembali. Apabila dikaitkan dengan motivasi, maka reinforcement dalam konteks Skinner ini merupakan motivasi ekstrinsik yaitu motivasi yang datangnya dari luar diri siswa. Dalam interaksi didalam kelas, umtuk memperbesar peranan aktif peserta didikdalam aktifitas belajar mengajar, maka reinforcement (penguatan) yang diberikan seorang guru sangat diperlukan. Sayangnya kegiatan memberikan penghargaan atau penguatan dalam proses belajat mengajar jarang sekali dilaksanakan karena umumnya guru kurangmemperhatikan dan kurang menyadari pentingnya hal ini. Padahal peemberian penguatan (reinforcement) dalam interaksi belajar mengajar sangat bermanfaat untuk :
1.       Meningkatkan perhatian siswa.
2.       Melancarkan dan memudahkan proses belajar.
3.       Membangkitkan dan mempertahankan motivasi.
4.      Mengontrol atau mengubah sikap yang mengganggu ke arah tingkah laku yang produktif.
5.       Mengembangkan dan mengatur diri sendiri dan belajar.
6.      Mengarahkan kepada cara berfikir yang baik dan berinisiatif (Hasibuan dan Mudjiono, 1988 : 58)
Pemberian penguatan menurut teori ini bentuknya bisa beragam, tergantung kepada banyak faktor, dan sebagainya. Yang terpenting adalah penguatan harus bermakna bagi siswa. Penguatan yang diberikan itu dapat berupa kata-kata atau kalimat pujian yang diciptakan guru, misalnya “bagus”, berbentuk mimik, gerakan ajah atau menyatakan penguatan dengan sentuhan, dengan pemberian hadiah dan lain-lain. Hal yang paling penting harus diperhatikan dalam rangka pemberian penguatannya ini adalah waktu pemberian penguatan itu sendiir haruslah sesaat  setelah siswa memberikan respons (Ibid, : 59-60).
Jika teori Skinner dengan pemberian penguatan atau penghargaan atau reinfercement ini dikaitkan dengan teori pendidikan dalam Islam (Al- qur’an), maka dapat dipahami bahwa kedua teori tersebut saling berhubungan dan adanya kesesuaian. Artinya bahwa jauh sebelum teori reinforcement dari Skinner ini muncul, Islam telah terllebih dahulu menawarkan teori yang senada.
Dalam  Islam  penguatan  (reinforcement)  sama  dengan  ganjaran  dan dalam  Al-qur’an  disebutkan  bahwa  segala  sessuatu  yang  diperbuat  oleh manusia  dalam  kehidupannya  di  dunia  ini  akan  mendapatkan  ganjaran Allah  SWT  baik  di  dunia  maupun  di  akherat  kelak  (QS,  3  :  148).  Dengan demikian maka pelajar atau siswa dalam sistem pendidikan Islam harus diberi motivasi sedemikian rupa dengan ganjaran atau penguatan itu tidak boleh berlebihan,, sebab pemberian penguatan yang berlebihan akan berakibat sampingan yang negatif, sebagaimana hadist Nabi bahwa “hendaklah engkau memberikan ganjaran seperlunya saja karena apabila memberi hadiah atau ganjaran itu berlebih-lebihan, itu tidak dikehenndaki karena berakibat negatif atau tidak baik” (HR. Bukhari). Teori tentang pemberian penguatan atau reinforcement atau penghargaan ini dapat berlaku pada keseluruhan bentuk pendidikan, semua jenjang dan usia si terdidik.
E.  Kesimpulan
Dari uraian yang telah dikemukakan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa teori operant conditioning adalah pengembangan teori Pavlov (S-R).
Yang menjadi fokus utama teori ini adalah pemberian reinforcement (penguatan) terhadap organisme (subyek) sesaat setelahh memberikan  respons terhadap suatu stimulus. Pemberian reinforcement ini diprogramkan sedemikian rupa supaya terjadi pengulangan atau peningkatan respons. Proses ini secara teriotis merupakan upaya pembentukan tingkah laku (operant conditioning).
Dengan kata lain, tingkah laku dapat dikondisikan atau diprogramkan sesuai dengan yang dikehendaki. Dalam konteks pembelajaran, berhasil atau tidaknya aplikasi teori ini di lapangan, kunci utamanya terletak pada guru.
Sebagai penutup dapat dikemukakan bahwa pelaksanaan teorri operant conditioning B.F Skinner ini dalam dunia pendidikan mempunyai beberapa kelemahan yaitu: Pertama, proses belajar dalam Skinner dipandang dapat diamati secara langsung, padahal belajar merupakan proses kegiatan mental yang tidak dapt disaksikan dari luar secara menyeluruh kecuali sebagian gejalanya, walaupun pada akhirnya teraplikasi dalam bentuk tingkah laku. Kedua, proses belajar dianggap bersifat otomatis mekanis sehingga terkesan seperti gerakan mesin atau robot, padahal setiap siswa memiliki self-regulation (kemampuan mengatur diri sendiri) dan self-control (pengendalian diri) yang bersifat kognitif sehingga siswa bisa menolak merespons jika ia tidak menghendaki. Ketiga, keseringan merespons sebagai ukuran belajar bisa berlaku untuk tingkah laku yang sederhana tetapi tidak cocok untuk tingkah laku yang kompleks.


DAFTAR PUSTAKA


Ahmadi , Abu dan Widodo Supriyono. 1991. Psikologi Belajar. Jakarta. Rinda Cipta.

Anwar, Moch. Idocji. Tt. Kepemimpinan dalam proses Belajar Mengajar.
Bandung : Angkasa

Dimyati dan Mudjiono. 1999. Belajar dan pembelajaran. Jakarta : Rieneke Cipta.
Daradjat, Zakiyah. 1982. Kepribadian Guru.  Jakarta : Bulan Bintang. Gredler, Bell, Margaret E. 1991. Belajar dan Membelajarkan. Terjemahan
Munandar. Jakarta : Rajawali Pers.

Hasibuan. JJ dan Mudiono. 1998. Proses Belajar Mengajar. Bandung : Remaja Karya.
Hills, PJ. tt. A Dictionary of Education. London : Routledge & Kegan Paul. Muhaimin, dkk. 1996. Strategi Belajar Mengajar : Pencapaiannya dalam
Pembelajaran Pendidikan Agama. Surabaya : Citra Media.
Nasution, S. 1998. Teknologi Pendidikan. Jakarta : Rieneke Cipta. Popham, W. James dan Eva L Baker. 1983. Bagaimana Mengajar Secara
Sistematis. Jakarta : Kanisius.

Rohani, Ahmad dan Abu Ahmadi. 1995. Pengelolaan Pengajaran. Jakarta : Rineke Cipta.
Soekarto, Indrafakhruddin. 1974. Psikologi Pendidikan, Malang : IKIP. Sudjana, Nana. 1991. Teori-teori Belajar untuk Pengajaran. Jakarta : Fak.
Ekonomi UI

Suryabrata, Sumadi. 1986. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Raja Grafindo Persada.

Syah, Muhibbin. 1999. Psikologi Belajar. Jakarta : Logis Wacana Ilmu. Walker. 1973. Conditioning dan Proses Belajar Instrumental. Jakarta : UI.
OPERANT CONDITIONING B.F SKINNER
(Aplikasi Teori Dalam Praktek Pendidikan)

A.                 Pendahuluan
Proses pendidikan dapat dilaksanakan di mana saja, pada situasi apapun dan berlangsung seumur hidup. Untuk membedakan pelaksanaan pendidikan tersebut, maka dalam istilah kependidikan dikenalkan bahwa terdapat tiga jenis pendidkan yaitu pendidikanan formal, non formal dan informal. Dalam kajian makalah ini pendidikan yang dimaksud lebih terfokus kepada pendidikan formal, meskipun begitu teori yang akan dibahas juga dapat dipergunakan dalam kedua jenis pendidikan yang lain.
Proses belajar mengajar dapat terlaksana secara efektif, efisien dan optimal jika didukung oleh pengetahuan yang memadai tentang teori-teori pendidikan yang berlaku secara umum. Dengan demikian kajian terhadap teori-teori peendidkan memiliki urgensi yang segnifikan, sebagai upaya memperkaya wawasan kependidikan, terutama bagi para guru daan praktisi pendidikan pada umumnya. Hal ini dimaksudkan untuk mencari landasan teoritis yang variatif, cocok dan berdayaguna dalam pelaksanaan pendidikan.
Salah satu teori yang diberikan Psikologi Pendidikan (yang merupakan aplikasi dari teori-teori psikologi dalam praktek pendidkan), adalah teori-teori belajar.  Teori  ini  besar  sekali  sumbangannya  terhadap  praktek  pendidkan, khususnya dalam bidang kurikulum dan pengajaran (Sudjana, 1991 : 1).
Secara teriotik, teori-teori belajar menjadi sumber bagi teori-teori pengajaran. Teori belajar menjelaskan bagaimana seorang individu dapat belajar dengan baik dan mengapa terjadi perubahan tingkah laku manusia melalui belajar, tetapi tidak menjelaskan bagaimana teknik dan cara  membantu siswa mencapai tujuan pendidkan berdasarkan kaidah-kaidah yang terdapat dalam teori belajar (Ibid).
Di    antara    teoritikus    dalam    bidang    pembelajaran    yang    paling berpengaruh  terhadap  perkembangan  teknologi  pendidikan  ialah  B.F  Skinner dengan teori pendidikannya adalah operant conditioning yang merupakan salah satu  teori  yang  menonjol  diantara  sekian  banyak    teori  behaviorisme  yang berdaskan hasil eksperimen. Menurut Sumadi Suryabrata (1986 : 294), di dalam dunia   pendidikan,   khusunya   dalam   lapangan   metodologi   dan   teknologi pengajaran,  pengaruh  ini  sangat  besar.  Pengaruh  teori  Skinner  sangat  besar terutama di Amerika Serikat dan negara-negara pengaruhnya. Konsep-konsep behavior  control  dan  behavior  modification  yang  sangat  populer  di  kalangan- kalangan tertentu juga bersumber pada teori ini.
Tulisan singkat dalam makalah ini akan mencoba mendeskrifsikan teori operant conditioning B.F Skinner dalam hal apa dan bagaimana aplikasi teori dalam pendidikan ? Mudah-mudahan tulisan ini dapat menjadi wacana pembuka dalam memahami teori tersebut dengan lebih baik.
B.         Operant Conditioning B.F Skinner
1.         Sejarah Singkat Teori Operant Conditioning B.F Skinner
Berdasrkan hasil kajian terhadap beberapa literatur yang ada, dapat dipahami bahwa teori operant conditioning ini merupakan salah satu dari beberapa teori belajar yang termasuk dalam kelompok behaviorisme (Muhaimin, 1986 : 26). Dengan demikian orientasi kajiannya pun tingkah laku manusia (psikomotorik).
Teori pembiasaan prilaku respon (operant conditioning) ini merupakan teori  belajar  yang  berusia  paling  muda  dan  masih  sangat  berpengaruh  di kalangan para ahli psikologi belajar masa kini. Teoritikus penciptanya bernama Burhus    Frederik    Skinner    yang   lahir   tahun   1904,   seorang   penganut behaviorisme yang dianggap kontraversial. Tema pokok yang mewarnai karya- karyanya adalah bahwa tingkah laku itu sendiri (Bruno, dalam Muhibbin Syah, 1999 : 88).
Operant  Conditioning  adalah  nama  yang  di  pergunakan  oleh  Skinner (1938)  untuk  suatu  prosedur  dimana  seorang  dapat  mengontrol  tingkah  laku organisme melalui pemberian reinforcement yang bijaksana dalam lingkungan yang relatif bebas (Walker, 1973 : 127).
Azas operant conditioning B.F Skinner mulai muncul dalam tahun 1930- an,  pada  waktu  keluarnya  teori-teori  S-R  (Stimulus-Respons)  yang  kemudian deikenal dengan model konditioning klasik dari Pavlov yang pada saat itu telah memberi pengaruh yang kuat dalam pelaksanaan penelitian. Munculnya teori Operant  Conditioning  ini  sebagai  bentuk  reaksi  ketidak  puasan  Skinner  atas teori  S-R,  umpamanya  pada  pernyataan  Stimulus  terus  menerus  memiliki sifat-sifat  kekuatan  yang  tidak  mengendur (Gredler,  1991  :  115).  Dengan  kata lain  suatu  stimulus  bervariasi  serta  akan  terjadi  pengulangan  bila  terdapat penguatan (reinforcement). Pengulangan respons-respons tersebut merupakan tahapan-tahapan dalam proses mngubah atau pembentukan tingkah laku.
Menurut Margaret E. Bell Gredler, B.F Skinner setuju dengan pendirian yang  dulu  diambil  oleh  Jhon  Watson,  maksudnya  psikologi  dapat  menjadi suatu   ilmu   hanya   melalui   studi   tingkah   laku,   oleh   karena   itu   Skinner mendefenisikan belajar sebagai perubahan tingkah laku (Ibid : 116-117). Hal ini berati  bahwa  tingkah  laku  belajar  dapat  di  modifikasi  dan  diprogram  dalam rangka  pencapaian  tujuan  pendidikan.  Dalam  kaitan  ini  kemampuan  dan profesionalisme guru memainkan peranan kunci.
Teori Skinner ini kemudian dianggap sebagai dasar dari program- program inovatif dalam bidang pendidikan. Seperti pengajaran berprogram, mesin mengajar (teaching machine) dan program pengajaran dengan bantuan komputer.
2.   Pengertian Operant Conditioning
Secara   terpisah   kata   operant   dan   conditioning   mempunyai   definisi tersendiri.  Dalam  hal  ini  operant  diartikan  sebagai  sejumlah  prilaku  atau respons  yang  membawa  efek  yang  sama  terhadap  lingkungan  yang  dekat (Reber,  dalam  Muhibin  Syah,  1995  :  107).  Sementara  conditioning  diartikan sebagai  suatu  bentuk  belajar  dimana  kesanggupan  untuk  merespon  terhadap rangsangan  tertentu  dapat  dipindahkan  pada  rangsangan  yang  lain  (Walker, 1973 : 25).
Sedangkan   secara   menyeluruh,   istilah   operantconditioning   diartikan sebagai   suatu   situasi   belajar   dimana   suatu   respons   lebih   kuat   akibat reinforcement langsung (Wasty, 1998 : 126). Kemudian margaret E. Bell Gredler dalam   kesimpulannya   mengartikan   operant    conditioning    sebagai   proses mengubah   tingkah   laku   subjek   dengan   jaalan   memberikan   penguatan (reinforcement)   atas   respons-respons  yang   dikehendaki  dengan   kehadiran stimulus  yang  cocok  (Gredler,  1991  :  125).  Kemudian  dalam  ungkapan  yang berbeda dinyatakan bahwa :
Operant conditioning is the process of aperant conditioning involves the modification of behaviour by its contingences. Typically a relationship is established between some form of valuntary behaviour and reinforcement. A subject is operantly conditioned when he has modified his behavior to obtain the reinforcement or reward. A knowledge of the pattern oe reinforcement enables predictions to be made about the individual’s behaviour (Hills, tt : 211).
Dari beberapa definisi di atas, dapat diambil suatu pemahaman bahwa penciptaan suatu kondisi dalam rangka pengubahan tingkah laku subjek, yang relatif sesuai dengan yang dikehendaki (misalnya, oleh guru atau pemimpin pendidikan) yaitu dengan mencermati dan mengontrol respons yang muncul, kemudian setiap respons tersebut diberikan penguatan (reinforcement).
3.    Teori Pokok Operant Conditioning B.F Skinner
Seperti    halnya    Throndike,    Skinner    menganggap    reward    atau reinforcement   sebagai   faktor   terpenting   dalam   proses   belajar.   Skinner berpendapat bahwa tujuan psikologi adalah meramal dan mengontrol tingkah laku (Wasty, 1998 : 119). Dengan demikian tingkah laku yang diinginkan terjadi, dapat    digambarkan    dan    dibentuk    secara    nyata    melalui    pemberian reinforcement yang sesuai.
Menurut  Skinner  tingkah  laku  sepenuhnya  ditentukan  oleh  stimulus, tidak ada faktor perantara lainnya. Rumus Skinner : B (behaviour) = F (fungsi) dari S (stimulus) (B = F (S). Tingkah laku atau respons (R) tertentu akan timbul sebagai reaksi terhadap stimulus tertentu (S). Respons yang dimaksud di sini adalah respons yang berkondisi yang dikenal dengan respons operant (tingkah laku operant). Sedangkan stimulusnya adalah stimulus operant (Sudjana, 1991 : 85).  Oleh  karena  itu  belajar  menurut  Skinner  diartikan  sebagai  perubahan tingkah laku yang dapat diamati dalam kondisi yang terkontrol secara baik.
Terdapat  dua  macam  penguat  yang  dapat  diberikan  dalam  rangka memotivasi  atau  memodifikasi  tingkah  laku.  Pertama,  reinforcement  positif yakni   sesuatu   atau   setiap   penguat   yang   memperkuat   hubungan   stimulus respons atau sesuatu yang dapat memperbesar kemungkinan timbulnya suatu respons atau  dengan  kata lain  sesuatu  yang  dapat memperkuat tingkah  laku. Kedua,    Reinforcement   negatif    (punishment)    yakni    sesuatu    yang    dapat memperlemah  timbulnya  respons-respons  (Rohani,  1995  :  13).  Artinya  setiap penguat  yang  dapat  memperkuat  tingkah  laku  respons  tetapi  bersifat  aversif (menimbulkan   kebencian   dan   penghindaran),   misalnya   :   ujian   tiba-tiba. Stimulus   negatif   dapat   menimbulkan   respons   emosional   bahkan   dapat melenyapkan (extinction) tingkah laku atau respons (Gredler : 1991 : 130).
Macam  dari  sifat  reinforcement  ini,  merupakan  pilihan  atau  opsi  bagi para    guru    sebagaii    pemilik    reinforcement    (Baker,    1983    :    121),    untuk menerapkannya  di   lapangan  baik  dalam   konteks   kelas  maupun   terhadap individu dalam kelas.  Disinilah kemampuan  profesionalisme dan pengalaman seorang  guru  sangat  menentukan,  karena  bukan  suatu  hal  yang  mustahil reinforcement  negatif  justru  melahirkan  respons  (tingkah  laku)  positif.  Tetapi Skinner lebih menekankan kepada pemberian reinforcement positif.
Ada  dua  konsep  operant  yang  relevan  yakni  melenyapkan  (extinction) dan hukuman. Konsep melenyapkan adalah proses dimana suatu operant yang telah  terbentuk  tidak  mendapatkan  penguat  lagi.  Dengan  demikian  dapat menyebabkan  intensitas  dan  frekuensinya  menjadi  turun.  Hukuman  adalah stimulus   yang   merupakan   konsekuensi   tingkah   laku   yang   mengurangi kemungkinan  terjadinya  prilaku  serupa  di  masa  yang  akan  datang  (Dimyati dan Mudjiono, 1999 : 9). Oleh karena itu maka yang terbaik adalah menyusun kemungkinan    terjadinya    reinforcement    yang    positif    dan    apabila    ingin memperlemah  respons  sebaiknya  tidak  perlu  diberikan  reinforcement  lagi. Dengan kata lain terjadi proses melenyapkan (extinction).
Dalam proses pembelajaran, untuk memperbesar peranan peserta didik dalam aktivitas pengajaran, maka reinforcement (penguat) yang diberikan oleh seorang guru sangat diperlukan, karena penguat yang diberikan tersebut akan membuat individu terus berupaya meningkatkan prestasinya. Sebagai contoh, ketika seorang guru melihat siswanya rajin mengunjungi perpustakaan, lalu guru tersebut memberikan senyuman sebagai tanda memujinya. Senyum guru itu merupakan reinforcement bagi siswa tersebut yang bermanfaat untuk menggiatkannya lebih sering lagi mengunjungi perpustakaan.
C.     Aplikasi Teori Operant Conditioning Dalam Praktek Pendidikan
Belajar dan mengajar merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Belajar adalah mengingat, mengerti, memahami, menerangkan, menganalisa, mensintesis, mengevaluasi, berpikir, percaya, berpartisipasi, melaksanakan dan seterusnya. Belajar adalah perubahan dari setiap tingkah laku yang merupakan pendewasaan atau pematangan oleh satu kondisi dari organisme (subjek). Dan mengajar tidaklah mentransfer sumber pengetahuan saja tetapi juga mengubah sikap dan tingkah laku yang nyata. (Anwar, tt : 95, 96,98).
Skinner mengakui bahwa aplikasi teori operant conditioning ini terbatas, tetapi ia merasa bahwa ada implikasi praktis bagi pendidikan. Ia mengemukakan bahwa kontrol yang positif (menyenangkan) mengandung sikap yang menguntungkan terhadap pendidikan dan akan lebih efektif bila digunakan. Menurut Skinner, belajar memberikan kekuatan untuk terjadinya respons-respons yang bertingkat dan berkelanjutan, apabila prosedur penguatan  (reinforcement)  diatur  sedemikian  rupa.  Oleh  karena  itu  dalam proses belajar perlu ditetapkan tingkah prilaku. Pada saat orang belajar, maka responsnya  menjadi  lebih  baik.  Sebaliknya,  apabila  ia  tidak  belajar  maka responsnya  akan  menurun.  Dalam  belajar  dapat  di  temukan  beberapa  hal  : Kesempatan   terjadinya   peristiwa   yang   menimbulkan   respons   pembelajar, respons  si  pembelajar,  dan  konsekuensi  yang  bersifat  menguatkan  respons tersebut  (Dimyati  dan  Mudjiono,  1999  :  9).  Penguatan  terjadi  pada  stimulus yang  menguatkan  konsekuensi  tersebut.  Sebagai  ilustrasi,  perilaku  respons  si pembelajar  yang  baik  diberi  hadiah  tetapi  sebaliknya,  perilaku  respons  yang tidak baik diberi teguran dan hukuman.
Fungsi utama pendidikan adalah mencipatakan kondisi agar tingkah laku yang baik dapat di terapkan, sedangkan peranan utama dari seorang pendidik (guru) adalah menciptakan kondisi agar tingkah laku yang diinginkan dapat terwujud dan proses belajar berlangsung secara dinamis dan kondusif. Untuk itu dalam prose pendidikan dibutuhkan guru yang profesional dan memiliki wawasan yang luas.
Menurut  Zakiah  Daradjat  (1982  :  22-23),  guru  yang  profesional  minimal harus  memiliki  enam  hal  yaitu  :  Pertama,  kegairahan  dan  kesediaan  untuk mengajar.  Kedua,  dapat  membangkitkan  minat  murid.  Ketiga,menumbuhkan sikap   dan   bakat   yang   baik.   Keempat,   mengatur   proses   belajar   mengajar. Kelima,   berpindahnya   pengaruh   belajar   dan   pelaksanaannya   ke   dalam kehidupan yang nyata. Dan keenam, hubungan manusiawi dalam proses belajar mengajar.
Pada diri setiap manusia ada keinginan yang mulia yang dibuatnya  sendiri dari lubuk hati yang paling dalam dan telah tertanam sedemikian rupa yang berasal dari hubungannya dengan obyek-obyek kehidupan sekitarnya, sementara mengajar berarti memberikan stimulus dan menguatkannya.
Dalam proses pembelajaran guru dapat menyusun program pembelajaran berdasarkan pandangan Skinner ini. Dalam menerapkan teori Skinner guru perlu memperhatikan dua hal yang penting, yaitu : pemilihan stimulus yang deskriminatif dan penggunaan penguatan. Sebagai ilistrasi apakah guru akan meminta respons ranah kognitif atau efektif. Jika yang akan dicapai adalah sekedar menyebutkan ibu kota negara Republik Indonesia adalah Jakarta, tentu saja siswa hanya dilatih menghafal.
Langkah-langkah pembelajaran yang dapat ditempuh berdasarkan teori operant comditioning adalah sebagai berikut :
1.      Mempelajari keadaan kelas. Guru mencari dan menemukan perilaku siswa yang positif atau negatif. Perilaku positif akan diperkuat dan perilaku negatif diperlemah atau dikurangi.
2.      Membuat daftar penguat dan positif. Guru mencari prilaku yang lebih disukai oleh siswa, prilaku yang kena hukuman, dan kegiatan luar sekolah yang dapat dijadikan penguat.
3.      Memilih dan menentukan urutan tingkahh laku yang dipelajari serta jenis penguatnya.
4.      Membuat program pembelajaran. Program pembelajaran ini berisi urutan prilaku yang dikehendaki, penguatan, waktu mempelajari prilaku, dan evaluasi. Dalam melaksanakan program pembelajaran, guru mencatat prilaku dan penguat yang berhasil dan tidak berhasil. Ketidak berhasilan tersebut menjadi catatan penting bagi modifikasi prilaku selanjutnya (Gredler, 1991 : 154-156).
Sebagai ilustrasi ketertiban kelas, pada saat berlangsung proses belajar mengajar, seorang siswa berulang-ulang mengganggu teman di depannya.  Guru yang melihat kelakuan tersebut segera mengamati dan menentukan apa yang akan di lakukannya, memberikan perhatian atau meengacuhkannya sebab kedua pilihan ini dapat menjadi dapat menjadi reinforcement bagi yang bersangkutan.
D.         Programing Pelajaran
Dalam  konteks  pembelajaran  menurut  Skinner  dapat  dilihat  bahwa tujuan,  metode  dan  hasil  belajar  dikontrol  secara  ketat  (Nasution,  1991  :  54). Untuk itu guru perlu mempunyai kemampuan menganalisaa pelajaran menjadi unit-unit  kecil  yang  dapat  dipelajarri  anak  dengan  kemampuan  sendiri.  Oleh karena  itu  guru  juga  perlu  melakukan  programing  atau  memprogramkan pelajaran   menjadi   unit-unit   kecil   dalam   urutan   yang   membawa   siswa selangkah demi selangkah ke arah tujuan pelajaran (Ibid : 54).
Tentang bagaimana membuat urutan materi pelajaran. Hal ini sangat ditentukan oleh kemampuan analisis guru terhadap materi, tujuan dan metode, misalnya :
         Sejarah dengan urutan kronologis (progreesif, refresif).
         Matematika dengan urutan logis.
         Urutan sederhana-kompleks.
         Urutan mudah-sulit.
         Urutan     speesifik-umum,     
         khusus-konsep/generalisasi,     dan
         urutan keseluruhan bagian-bagian (Ibid : 55,56).
Programing yang telah dibuat menjadi unit-unit dan berurutan dan diaplikasikan secara bertahap dan konsisten, kemudian dikontrol secara ketat terhadap respons-respons yang ditimbulkan gina menentukan reinforcement yang akan diberikan.
Bentuk   nyata   oprasionalisasi   dari   teori   ini   adalah   sebagai   berikut   : stimulus   (SI)   akan   melahirkan   respon   (RI),   respons   ini   kemudian   diberi penguatan (reinforcement). Kemudian respons (RI) menjadi stimulus (S2) yang dapat menimbulkan respons (R2), selanjutnya diberikan penguatan dan begitu seterusnya. (Nasution, 1991 : 52,53).
Dalam  pemberian  stimulus  menurut  teori  ini  dapat  berupa  stimulus positif, yaitu stimulus yang langsung dapat di respons oleh sunjek dan segera diberikan reinforcement (walker, 1973 : 139), atau dapat juga dengan stimulus diskriminatif  (Sd),  yaitu  sembarang  stimulus  yang  hadir  secara  ttiba-tiba  bila mana suatu respons menerima penguatan (Gredler, 1991 : 125).
Berkaitan  dengan  respons  terhadap  stimulus  ini,  Skinner  membedakan adanya  ddua  macam  respons  dalam    Operant  Conditioning,  yaitu  :  Pertama, Respondent  respons  :  yaitu  respons  yang  ditimbulkan  oleh  stimulus  tertentu dan  respons  tersebut  relatif  tetap,  misalnya  makanan  menimbulkan  air  liur, setiap kali ada makanan yang ddidekatkan pada subyek  maka secara spontan air liurnya akan muncul. Kedua,  Operant respons : yaitu respons yang timbul oleh  suatu  stimulus  dan  diberikan  penguatan  (reinforcement)    (Suryabrata, 1986  :  227).  Sebagai  contoh,  seorang  siswa  yang  dapat menyelesaikan  dengan baik soal matematika  yang diberikan oleh seorang guru dan kemudian gguru itu memberrikan penguatan berupa senyuman atau pujian maka siswa tersebut akan terpacu untuk dapat pula menyelesaikan soal-soal yang diberikan selanjutnya. Respons inilah yang menjadi fokus teori Skinner.
Dengan berdasarkan pada urutan-urutan filosofis di atas, maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa secara ringkas teori Skinner memiliki tiga elemen, yaitu Stimulus (S), Respons (R) dan Reinfforcement. Setiap elemen ini saling terkait satu sama lain dan bersifat sircular, dan bukan merupakan eelemen yang berdiri sendiri yang suatu saat terlepas dari elemen yang lain.
Prinsip utama atau pokok dari teori operant conditioning B.F Skinner ini adalah pemberian reinforcement  (penguatan). Margaret E. Bell Gredler (1991 : 127)  mengemukakan  reinforcement  dalam  teori  Skinner  adalah  stimulus  yang mengikuti  suatu  respons  dan  memperkuat  atau  memuaskannya  atau  setiap konsekuensi  dari  tingkah  laku  yang  mempunyai  dampak  memperkuat  atau memperkokoh tingkah laku.
Istilah konsekuensi yang menguatkan (reinforcement concequence) dan penguatan (reinforcement) digunakan sebagai pengganti untuk istilah ganjaran (reward), karena menurut Skinner penggunaan istilah “ganjaran” menyarankan adanya bentuk-bentuk kompensasi untuk bertingkah laku dalam cara tertentu, istilah ini juga mengandung konotasi pengaturan kontrak.
E.         Macam-Macam Reinforcement
Penguatan (reinforcement) dalam teori Skinner ini dapat dibedakan dalam beberapa bagian sebagai berikut :
1.    Ratio reinforcement, yaitu reinforcement yang diberikan setelah respons muncul dalam jumlah tertentu.
2.    Interval reinforcement, yaitu reinforcement yang diberikan setelah respons pertama, sesudah habisnya jangka waktu tertentu atau tidak langsung. (Walker, 1973 :133, 134)
3.    Penguat primer, yaitu penguat yang meningkatkan keseringan merespon tanpa perlu latihan untuk itu, contoh : makanan, uang.
4.    Penguat skunder, disebut pula penguat berkondisi, yaitu kelompok penguat yang berpengaruh pada tingkah laku melalui pelatihan (conditioning), contoh : bunyi gorengan, aroma sate.
5.    Penguat generalisasi : penguat yang berfungsi dalam berbagai situasi dan diasosiasikan dengan penguat primer, seperti : senyuman, pujian perhatian, persetujuan.
6.    Penguat alami, penguat yang ada secara alami, seperti : kesempatan, bermain.
7.  Penguat akalan (kontrive) atau yang diatur, tetapi dilaksanakan dengan bijaksana, seperti keluar kelas lebih cepat, waktu bebas, piagam, (Gredler, 1991 : 128, 129, 146, 147).
F..     Reinforcement
Stimulus  yang  mengikuti  suatu  respons  dan  yang  dapat  memuasakan kemungkinan     respons     dinamakan     reinforcer.Reinforcer     itu     sendiri sesungghnya  adalah  stimulus  yang  meningkatkan  kemungkinan  timbulnya sejumlah  respons  tertentu.  Stimulus  reinforcement  atau  stimulus  penguat adalah  memusatkan  perhatian  kepada  akibat  pada  orang  lain  yang  sedang belajar (Soekarto, 1974 : 25).
Berikut ini urutan operasional (operant conditioning) dalam bentuk bingkai (frame). Modifikasi atau improfisasi dari frame S. Nasution, yaitu :

A

Materi 1

S1
Respon
R1
Reinforcement

B
R1+Reif(A)+
Materi 2

S2
Respon
R2
Reinforcement

C
R1+Reif(B)+
Materi 3

S3
Respon
R3
Reinforcement

Secara   berurutan,   siswa   diberikan   materi   1   dan   sekaligus   sebagai stimulus (1), siswa memberikan respons (R1) berupa pemahaman yang benar terhadap  materi  tersebut,  kemudian  siswa  yang  bersangkutan  memperoleh reinforcement.   Pemberian  reinforcement  atas  rerespons   (R1)   menambah semangatnya  untuk  memahami  materi  2,  yang  berperan  sebagai  stimulus (S2) yang dibangun bersama respons (R1), dan seterusnya.
Sebagai     contoh,     seorang     guru     menginginkan     siswanya     dapat melaksanakan shalat  dengan baik dan benar, maka guru memberikan materi wudhu’   terlebih  dahulu   sebagai   materi   1.   Siswa   kemudian  memberikan respons dan dapat melakukan wudhu’ dengan benar dan memahami nya lalu guru    tersebut    memberikan    penguat    seperti    pujian    atau    senyuman. Pemberian penguat inilah yang kemudian menambah semangat siswa untuk memahami  materi  2  yaitu  bacaan  shalat,  begitu  seterusnya,  setiap  respons yang diberikan siswa secara langsung diberikan penguatan oleh guru sehingga semangat siswa untuk melakukan yang lebih baik akan meningkat.
Dari urutan-urutan ini terlihat bahwa pemberian reinforcement (penguatan) harus konsisten, segera dan positif setelah tingkah laku (respons) yang diinginkan atau diprogramkan.
Dalam proses belajar mengajar Skinner menganjurkan untuk melakukan analisis langsung terhadap aktivitas-aktivitas yang terjadi dalam situasi praktis untuk mengenal tingkah laku yang pantas dan tidak pantas secara tepat, dengan cara mengadakan pelatihan yang bersifat spesifik, praktek, dan segera. Latihan ini merupakan latihan yang berhubungan secara spesifik dengan pekerjaan yang dilakukan secara praktis untuk diaplikasikan dengan segera dan materi yang diberikan bersifat praktis.
Mengajar adalah mengatur kesatuan penguat untuk mempercepat proses belajar. Dengan demikian tugas guru harus menjadi arsitek dalam membentuk tingkah laku siswa melalui penguatan, sehingga dapat membentik respons yang tepat dikalangan para siswa.
Menurut Nana Sudjana (1991 : 93) ada beberapa prinsip pengajaran yang dapat digunakan berdasarkan operant conditioning yaitu :
1.      Perlu adanya tujuan yang jelas dan tingkah laku apa yang diharapkan.
2.      Memberikan tekanan pada iindividu sesuai dengan kesanggupannya.
3.      Pentingnya penilaian yang terus menerus untuk menetapkan tingkat kemampuan siswa.
4.      Prosedur pengajaran dilakukan melalui modifikasi atas dasar hasil evaluasi dan kemajuan yang dicapainya.
5.      Hendaknya digunakan positif reinforcement secara sistematis bervariasi dan segera manakala respons siswa itu terjadi.
6.      Prinsif belajar tuntas sebaiknya digunakan agar penguasaan belajar para siswa dapat diperoleh sesuai tingkah laku yang diharapkan.
7.      Peranan guru lebih diharapkan sebagai arsitek dan pembentuk tingkah laku.
Prinsip-prinsip ini, dalam pelaksanaannya memerlukan keahlian, kreatifitas, kesabaran, “telaten” dan konsisten, mulai dari perumusan program, tujuan dan metode yang akan digunakan serta penerapannya, tidak ada pilihan lain kecuali profesionalisme.
Dalam proses pengajaran operant conditioning menjamin dan memeberi keyakinan adanya respons terhadap stimulus, sebab jika sesuatu tidak menunjukkan reaksi-reaksi terhadap stimulus, guru tak mungkin dapat membimbing tingkah lakunya ke arah tujuan. Dalam hal ini guru mempunya peranan penting didalam kelas untuk mengontrol dan mengarahkan  kegiatan belajar ke arah tercapainya tujuan yang telah dirumuskan.
A.     Pemberian Penguatan Dalam Pembelajaran
Sebagaimana telah dibicarakan sebelumnya bahwa yang menjadi fokus utama teori Operant Conditioning dalam belajar oleh B.F Skinner ini adalah pemberian reinforcement (penguatan) terhadap organisme (subjek) sesaat setelah memberikan respons tehadap stimulus. Pemberian reinforcement ini diprogramkan sedemikian rupa supaya terjadi pengulangan atau peningkatan respons. Dalam pendidikan, pemberian reinforcement (penguatan) berarti pemberian penghargaan. Penghargaan mempunyai pengaruh positif dalam kehidupan manusia sehari-hari yakni mendorong seseorang mmemperbaiki tingkah laku serta meningkatkan kegiatannya atau usahanya. Dengan demikian jika yang diberi penghargaan itu adalah siswa yang sedang belajar, maka imbasnya adalah reinforcement yang diberikan tersebut akan diterima oleh siswa sebagai stimulus yang bermanfaat untuk merangsang siswa mengulangi perbuatannya yang dianggap baik itu, bahkan memacu siswa untuk berbuat lebih baik lagi.
Dalam proses belajar mengajar, memberikan penguatan diartikan dengan tingkah laku guru dalam merespons secara aktif suatu tingkah laku tertentu dari siswa yang memungkinkan tingkah laku tersebut timbul kembali. Apabila dikaitkan dengan motivasi, maka reinforcement dalam konteks Skinner ini merupakan motivasi ekstrinsik yaitu motivasi yang datangnya dari luar diri siswa. Dalam interaksi didalam kelas, umtuk memperbesar peranan aktif peserta didikdalam aktifitas belajar mengajar, maka reinforcement (penguatan) yang diberikan seorang guru sangat diperlukan. Sayangnya kegiatan memberikan penghargaan atau penguatan dalam proses belajat mengajar jarang sekali dilaksanakan karena umumnya guru kurangmemperhatikan dan kurang menyadari pentingnya hal ini. Padahal peemberian penguatan (reinforcement) dalam interaksi belajar mengajar sangat bermanfaat untuk :
1.       Meningkatkan perhatian siswa.
2.       Melancarkan dan memudahkan proses belajar.
3.       Membangkitkan dan mempertahankan motivasi.
4.      Mengontrol atau mengubah sikap yang mengganggu ke arah tingkah laku yang produktif.
5.       Mengembangkan dan mengatur diri sendiri dan belajar.
6.      Mengarahkan kepada cara berfikir yang baik dan berinisiatif (Hasibuan dan Mudjiono, 1988 : 58)
Pemberian penguatan menurut teori ini bentuknya bisa beragam, tergantung kepada banyak faktor, dan sebagainya. Yang terpenting adalah penguatan harus bermakna bagi siswa. Penguatan yang diberikan itu dapat berupa kata-kata atau kalimat pujian yang diciptakan guru, misalnya “bagus”, berbentuk mimik, gerakan ajah atau menyatakan penguatan dengan sentuhan, dengan pemberian hadiah dan lain-lain. Hal yang paling penting harus diperhatikan dalam rangka pemberian penguatannya ini adalah waktu pemberian penguatan itu sendiir haruslah sesaat  setelah siswa memberikan respons (Ibid, : 59-60).
Jika teori Skinner dengan pemberian penguatan atau penghargaan atau reinfercement ini dikaitkan dengan teori pendidikan dalam Islam (Al- qur’an), maka dapat dipahami bahwa kedua teori tersebut saling berhubungan dan adanya kesesuaian. Artinya bahwa jauh sebelum teori reinforcement dari Skinner ini muncul, Islam telah terllebih dahulu menawarkan teori yang senada.
Dalam  Islam  penguatan  (reinforcement)  sama  dengan  ganjaran  dan dalam  Al-qur’an  disebutkan  bahwa  segala  sessuatu  yang  diperbuat  oleh manusia  dalam  kehidupannya  di  dunia  ini  akan  mendapatkan  ganjaran Allah  SWT  baik  di  dunia  maupun  di  akherat  kelak  (QS,  3  :  148).  Dengan demikian maka pelajar atau siswa dalam sistem pendidikan Islam harus diberi motivasi sedemikian rupa dengan ganjaran atau penguatan itu tidak boleh berlebihan,, sebab pemberian penguatan yang berlebihan akan berakibat sampingan yang negatif, sebagaimana hadist Nabi bahwa “hendaklah engkau memberikan ganjaran seperlunya saja karena apabila memberi hadiah atau ganjaran itu berlebih-lebihan, itu tidak dikehenndaki karena berakibat negatif atau tidak baik” (HR. Bukhari). Teori tentang pemberian penguatan atau reinforcement atau penghargaan ini dapat berlaku pada keseluruhan bentuk pendidikan, semua jenjang dan usia si terdidik.
E.  Kesimpulan
Dari uraian yang telah dikemukakan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa teori operant conditioning adalah pengembangan teori Pavlov (S-R).
Yang menjadi fokus utama teori ini adalah pemberian reinforcement (penguatan) terhadap organisme (subyek) sesaat setelahh memberikan  respons terhadap suatu stimulus. Pemberian reinforcement ini diprogramkan sedemikian rupa supaya terjadi pengulangan atau peningkatan respons. Proses ini secara teriotis merupakan upaya pembentukan tingkah laku (operant conditioning).
Dengan kata lain, tingkah laku dapat dikondisikan atau diprogramkan sesuai dengan yang dikehendaki. Dalam konteks pembelajaran, berhasil atau tidaknya aplikasi teori ini di lapangan, kunci utamanya terletak pada guru.
Sebagai penutup dapat dikemukakan bahwa pelaksanaan teorri operant conditioning B.F Skinner ini dalam dunia pendidikan mempunyai beberapa kelemahan yaitu: Pertama, proses belajar dalam Skinner dipandang dapat diamati secara langsung, padahal belajar merupakan proses kegiatan mental yang tidak dapt disaksikan dari luar secara menyeluruh kecuali sebagian gejalanya, walaupun pada akhirnya teraplikasi dalam bentuk tingkah laku. Kedua, proses belajar dianggap bersifat otomatis mekanis sehingga terkesan seperti gerakan mesin atau robot, padahal setiap siswa memiliki self-regulation (kemampuan mengatur diri sendiri) dan self-control (pengendalian diri) yang bersifat kognitif sehingga siswa bisa menolak merespons jika ia tidak menghendaki. Ketiga, keseringan merespons sebagai ukuran belajar bisa berlaku untuk tingkah laku yang sederhana tetapi tidak cocok untuk tingkah laku yang kompleks.


DAFTAR PUSTAKA


Ahmadi , Abu dan Widodo Supriyono. 1991. Psikologi Belajar. Jakarta. Rinda Cipta.

Anwar, Moch. Idocji. Tt. Kepemimpinan dalam proses Belajar Mengajar.
Bandung : Angkasa

Dimyati dan Mudjiono. 1999. Belajar dan pembelajaran. Jakarta : Rieneke Cipta.
Daradjat, Zakiyah. 1982. Kepribadian Guru.  Jakarta : Bulan Bintang. Gredler, Bell, Margaret E. 1991. Belajar dan Membelajarkan. Terjemahan
Munandar. Jakarta : Rajawali Pers.

Hasibuan. JJ dan Mudiono. 1998. Proses Belajar Mengajar. Bandung : Remaja Karya.
Hills, PJ. tt. A Dictionary of Education. London : Routledge & Kegan Paul. Muhaimin, dkk. 1996. Strategi Belajar Mengajar : Pencapaiannya dalam
Pembelajaran Pendidikan Agama. Surabaya : Citra Media.
Nasution, S. 1998. Teknologi Pendidikan. Jakarta : Rieneke Cipta. Popham, W. James dan Eva L Baker. 1983. Bagaimana Mengajar Secara
Sistematis. Jakarta : Kanisius.

Rohani, Ahmad dan Abu Ahmadi. 1995. Pengelolaan Pengajaran. Jakarta : Rineke Cipta.
Soekarto, Indrafakhruddin. 1974. Psikologi Pendidikan, Malang : IKIP. Sudjana, Nana. 1991. Teori-teori Belajar untuk Pengajaran. Jakarta : Fak.
Ekonomi UI

Suryabrata, Sumadi. 1986. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Raja Grafindo Persada.

Syah, Muhibbin. 1999. Psikologi Belajar. Jakarta : Logis Wacana Ilmu. Walker. 1973. Conditioning dan Proses Belajar Instrumental. Jakarta : UI.

0 Response to "Teori SKINNER (Aplikasi Teori Dalam Praktek Pendidikan"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel